alat laboratorium

Selasa, 17 Januari 2012

K I M I A

Rabu,18 Januari 2012

Senyawa kimia adalah zat kimia yang terbentuk dari dua atau lebih unsur kimia, dengan rasio tetap yang menentukan komposisi. Contohnya, dihidrogen monoksida (air, H2O) adalah sebuah senyawa yang terdiri dari dua atom hidrogen untuk setiap atom oksigen.

Umumnya, rasio tetap ini harus tetap karena sifat fisikanya, bukan rasio yang dipilih manusia. Oleh karena itu, material seperti kuningan, superkonduktor YBCO, semikonduktor "aluminium galium arsenida", atau coklat dianggap sebagai campuran atau aloy, bukan senyawa.

Ciri-ciri yang membedakan senyawa adalah dia memiliki rumus kimia. Rumus kimia memerikan rasio atom dalam zat, dan jumlah atom dalam molekul tunggalnya (oleh karena itu rumus kimia etena adalah C2H4 dan bukan CH2. Rumus kimia tidak menyebutkan apakah senyawa tersebut terdiri atas molekul; contohnya, natrium klorida (garam dapur, NaCl adalah senyawa ionik.

Senyawa dapat wujud dalam beberapa fase. Kebanyakan senyawa dapat berupa zat padat. Senyawa molekuler dapat juga berupa cairan atau gas. Semua senyawa akan terurai menjadi senyawa yang lebih kecil atau atom individual bila dipanaskan sampai suhu tertentu (yang disebut suhu penguraian).

Setiap senyawa kimia yang telah dijelaskan dalam literatur memiliki nomor pengenal yang unik, yaitu nomor CAS.


ASAM

Istilah "asam" merupakan terjemahan dari istilah yang digunakan untuk hal yang sama dalam bahasa-bahasa Eropa seperti acid (bahasa Inggris), zuur (bahasa Belanda), atau Säure (bahasa Jerman) yang secara harfiah berhubungan dengan rasa masam. Dalam kimia, istilah asam memiliki arti yang lebih khusus. Terdapat tiga definisi asam yang umum diterima dalam kimia, yaitu definisi Arrhenius, Brønsted-Lowry, dan Lewis.

  • Arrhenius: Menurut definisi ini, asam adalah suatu zat yang meningkatkan konsentrasi ion hidronium (H3O+) ketika dilarutkan dalam air. Definisi yang pertama kali dikemukakan oleh Svante Arrhenius ini membatasi asam dan basa untuk zat-zat yang dapat larut dalam air.
  • Brønsted-Lowry: Menurut definisi ini, asam adalah pemberi proton kepada basa. Asam dan basa bersangkutan disebut sebagai pasangan asam-basa konjugat. Brønsted dan Lowry secara terpisah mengemukakan definisi ini, yang mencakup zat-zat yang tak larut dalam air (tidak seperti pada definisi Arrhenius).
  • Lewis: Menurut definisi ini, asam adalah penerima pasangan elektron dari basa. Definisi yang dikemukakan oleh Gilbert N. Lewis ini dapat mencakup asam yang tak mengandung hidrogen atau proton yang dapat dipindahkan, seperti besi(III) klorida. Definisi Lewis dapat pula dijelaskan dengan teori orbital molekul. Secara umum, suatu asam dapat menerima pasangan elektron pada orbital kosongnya yang paling rendah (LUMO) dari orbital terisi yang tertinggi (HOMO) dari suatu basa. Jadi, HOMO dari basa dan LUMO dari asam bergabung membentuk orbital molekul ikatan.

Walaupun bukan merupakan teori yang paling luas cakupannya, definisi Brønsted-Lowry merupakan definisi yang paling umum digunakan. Dalam definisi ini, keasaman suatu senyawa ditentukan oleh kestabilan ion hidronium dan basa konjugat terlarutnya ketika senyawa tersebut telah memberi proton ke dalam larutan tempat asam itu berada. Stabilitas basa konjugat yang lebih tinggi menunjukkan keasaman senyawa bersangkutan yang lebih tinggi.

Sistem asam/basa berbeda dengan reaksi redoks; tak ada perubahan bilangan oksidasi dalam reaksi asam-basa.

Sifat-sifat

Secara umum, asam memiliki sifat sebagai berikut:

  • Rasa: masam ketika dilarutkan dalam air.
  • Sentuhan: asam terasa menyengat bila disentuh, terutama bila asamnya asam kuat.
  • Kereaktifan: asam bereaksi hebat dengan kebanyakan logam, yaitu korosif terhadap logam.
  • Hantaran listrik: asam, walaupun tidak selalu ionik, merupakan elektrolit.

Sifat kimia

Dalam air, reaksi kesetimbangan berikut terjadi antara suatu asam (HA) dan air, yang berperan sebagai basa,

HA + H2O ↔ A- + H3O+

Tetapan asam adalah tetapan kesetimbangan untuk reaksi HA dengan air:

K_a = \frac{[\mbox{H}_{3}\mbox{O}^+][ \mbox{A}^-]}{[\mbox{HA}]}

Asam kuat mempunyai nilai Ka yang besar (yaitu, kesetimbangan reaksi berada jauh di kanan, terdapat banyak H3O+; hampir seluruh asam terurai). Misalnya, nilai Ka untuk asam klorida (HCl) adalah 107.

Asam lemah mempunyai nilai Ka yang kecil (yaitu, sejumlah cukup banyak HA dan A- terdapat bersama-sama dalam larutan; sejumlah kecil H3O+ ada dalam larutan; asam hanya terurai sebagian). Misalnya, nilai Ka untuk asam asetat adalah 1,8 × 10-5.

Asam kuat mencakup asam halida - HCl, HBr, dan HI. (Tetapi, asam fluorida, HF, relatif lemah.) Asam-asam okso, yang umumnya mengandung atom pusat ber-bilangan oksidasi tinggi yang dikelilingi oksigen, juga cukup kuat; mencakup HNO3, H2SO4, dan HClO4. Kebanyakan asam organik merupakan asam lemah.

Larutan asam lemah dan garam dari basa konjugatnya membentuk larutan penyangga.

Sejarah

Sekitar tahun 1800, banyak kimiawan Prancis, termasuk Antoine Lavoisier, secara keliru berkeyakinan bahwa semua asam mengandung oksigen. Lavoisier mendefinisikan asam sebagai zat mengandung oksigen karena pengetahuannya akan asam kuat hanya terbatas pada asam-asam okso dan karena ia tidak mengetahui komposisi sesungguhnya dari asam-asam halida, HCl, HBr, dan HI. Lavoisier-lah yang memberi nama oksigen dari kata bahasa Yunani yang berarti "pembentuk asam". Setelah unsur klorin, bromin, dan iodin teridentifikasi dan ketiadaan oksigen dalam asam-asam halida ditemukan oleh Sir Humphry Davy pada tahun 1810, definisi oleh Lavoisier tersebut harus ditinggalkan.

Kimiawan Inggris pada waktu itu, termasuk Humphry Davy, berkeyakinan bahwa semua asam mengandung hidrogen. Kimiawan Swedia Svante Arrhenius lalu menggunakan landasan ini untuk mengembangkan definisinya tentang asam. Ia mengemukakan teorinya pada tahun 1884.

Pada tahun 1923, Johannes Nicolaus Brønsted dari Denmark dan Martin Lowry dari Inggris masing-masing mengemukakan definisi protonik asam-basa yang kemudian dikenal dengan nama kedua ilmuwan ini. Definisi yang lebih umum diajukan oleh Lewis pada tahun yang sama, menjelaskan reaksi asam-basa sebagai proses transfer pasangan elektron.

Penggunaan asam

Asam memiliki berbagai kegunaan. Asam sering digunakan untuk menghilangkan karat dari logam dalam proses yang disebut "pengawetasaman" (pickling). Asam dapat digunakan sebagai elektrolit di dalam baterai sel basah, seperti asam sulfat yang digunakan di dalam baterai mobil. Pada tubuh manusia dan berbagai hewan, asam klorida merupakan bagian dari asam lambung yang disekresikan di dalam lambung untuk membantu memecah protein dan polisakarida maupun mengubah proenzim pepsinogen yang inaktif menjadi enzim pepsin. Asam juga digunakan sebagai katalis; misalnya, asam sulfat sangat banyak digunakan dalam proses alkilasi pada pembuatan bensin.

BASA

Definisi umum dari basa adalah senyawa kimia yang menyerap ion hydronium ketika dilarutkan dalam air.Basa adalah lawan (dual) dari asam, yaitu ditujukan untuk unsur/senyawa kimia yang memiliki pH lebih dari 7. Kostik merupakan istilah yang digunakan untuk basa kuat. jadi kita menggunakan nama kostik soda untuk natrium hidroksida (NaOH) dan kostik postas untuk kalium hidroksida (KOH). Basa dapat dibagi menjadi basa kuat dan basa lemah. Kekuatan basa sangat tergantung pada kemampuan basa tersebut melepaskan ion OH dalam larutan dan konsentrasi larutan basa tersebut.



pH

pH adalah derajat keasaman digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Yang dimaksudkan "keasaman" di sini adalah konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam pelarut air.

Nilai pH berkisar dari 0 hingga 14. Suatu larutan dikatakan netral apabila memiliki nilai pH=7. Nilai pH>7 menunjukkan larutan memiliki sifat basa, sedangkan nilai pH<7>

Nama pH berasal dari potential of hydrogen. Secara matematis, pH didefinisikan dengan

pH = − log10[H + ]

Nilai pH 7 dikatakan netral karena pada air murni ion H+ terlarut dan ion OH- terlarut (sebagai tanda kebasaan) berada pada jumlah yang sama, yaitu 10-7 pada kesetimbangan

 H_2O \rightleftharpoons H^+ + OH^-

Penambahan senyawa ion H+ terlarut dari suatu asam akan mendesak kesetimbangan ke kiri (ion OH- akan diikat oleh H+ membentuk air). Akibatnya terjadi kelebihan ion hidrogen dan meningkatkan konsentrasinya.

Umumnya indikator sederhana yang digunakan adalah kertas lakmus yang berubah menjadi merah bila keasamannya tinggi dan biru bila keasamannya rendah

Selain mengunakan kertas lakmus, indikator asam basa dapat diukur dengan pH meter yang bekerja berdasarkan prinsip elektrolit / konduktivitas suatu larutan.



SENYAWA ORGANIK

Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawaan organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam biokimia.

Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak satu cincin benzena; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang.

Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada/tidaknya ikatan karbon-hidrogen. Sehingga, asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam format, asam lemak pertama, organik.

Nama "organik" merujuk pada sejarahnya, pada abad ke-19, yang dipercaya bahwa senyawa organik hanya bisa dibuat/disintesis dalam tubuh organisme melalui vis vitalis - "life-force".

Kebanyakan senyawaan kimia murni dibuat secara artifisial.


Garam (kimia)

Natrium klorida (NaCl) adalah bahan utama garam dapur

Dalam ilmu kimia, garam adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif (kation) dan ion negatif (anion), sehingga membentuk senyawa netral (tanpa bermuatan). Garam terbentuk dari hasil reaksi asam dan basa. Natrium klorida (NaCl), bahan utama garam dapur adalah suatu garam.

Larutan garam dalam air merupakan larutan elektrolit, yaitu larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Cairan dalam tubuh makhluk hidup mengandung larutan garam, misalnya sitoplasma dan darah.

Reaksi kimia untuk menghasilkan garam antara lain

  1. Reaksi antara asam dan basa, misalnya HCl + NH3 → NH4Cl.
  2. Reaksi antara logam dan asam kuat encer, misalnya Mg + 2 HCl → MgCl2 + H2
Keterangan: logam mulia umumnya tidak bereaksi dengan cara ini.




Oksida

Oksida, seperti besi oksida atau karat, Fe2O3, terbentuk ketika oksigen bergabung dengan unsur lainnya

Oksida adalah senyawa kimia yang sedikitnya mengandung sebuah atom oksigen serta sedikitnya sebuah unsur lain. Sebagian besar kerak bumi terdiri atas oksida. Oksida terbentuk ketika unsur-unsur dioksidasi oleh oksigen di udara. Pembakaran hidrokarbon menghasilkan dua oksida utama karbon, karbon monoksida, dan karbon dioksida. Bahkan materi yang dianggap sebagai unsur murni pun seringkali mengandung selubung oksida. Misalnya aluminium foil memiliki kulit tipis Al2O3 yang melindungi foil dari korosi.



1.TEORI ASAM-BASA

Ada 3 teori asam-basa,yaitu:
a.menurut ARCHENIUS, ASAM=melepas ion H+ dan BASA=melepas ion OH-.
b.menurut BROWNSTED-LOERY, ASAM= donor proton dan BASA=akseptor proton.
c.menurut LEWIS, ASAM=akseptor pasangan elektron dan BASA=donor pasanga elektron.

ASAM-BASA dapat dikenali dg menggunakan indikator sbg berikut:
a. krtas lakmus
b. indikator universal
c. pH meter



2. PH ASAM-BASA

pH suatu larutan brgantung pd [H+].
PH= -log [H+] ; pOH= -log [OH-] dmna pH+pOH=14
asam: pH<7
basa: pH>7
ntral: pH=7


ASAM KUAT & BASA KUAT= elektrolit kuat
RUMUS:
[H+] = M.valensi asam
[OH-] = M. valensi basa


ASAM LEMAH & BASA LEMAH = elektrolit lemah
RUMUS:
[H+] = akar Ka.M
[OH-] = akar Kb.M




3.LARUTAN PENYANGGA (BUFFER)
adalh lrtan yang dapat memprtahankan pH-nya dr pengaruh penambahan sedkit asam,basa, ataupun pnambahan sedkit air (pengenceran).
Buffer dbagi 2:
1. BUFFER ASAM
dmna penyusunnya: ASAM LEMAH + BASA KONJUGASINYA (GARAMNYA).
pH<7
RUMUS:
[H+] = Ka. n asam lmah/ n garam

2.BUFFER BASA
penyusunnya: BASA LEMAH + ASAM KONJUGASINYA (GARAMNYA).
pH>7
RUMUS:
[OH-] = Kb. n basa/ n garam

cat: Ka & Kb = ketetapan asam dan basa.

2 cara menghitunh pH larutan BUFFER yaitu:
1.cara langsung,jka data soal berupa:
AL + basa konjugasinya
BL + asam konjugasinya.

2. cara tidak langsung,jka data soal brupa AL + BK atau BL + AK mk harus direaksikn lbih dulu dan jk ada sisa pd spesi lemah,mka rumus yang dgunakan adlah RUMUS BUFFER.

MATERI KIMIA HARI INI

DAFTAR NAMA-NAMA UNSUR KIMIA

A
B B
Ammonia Amonia NH3 NH3
Carbon dioxide Karbon dioksida CO2 CO2
Carbon monoxide Karbon monoksida CO CO
Chlorine Klorin Cl2 Cl2
Hydrogen chloride Hidrogen klorida HCl HCl
Hydrogen Hidrogen H2 H2
Hydrogen sulfide Hidrogen sulfida H2S H2S
Methane Metana CH4 CH4
Nitrogen Nitrogen N2 N2
Nitrogen (II) oxide Nitrogen (II) oksida NO NO
Oxygen Oksigen O2 O2
Sulfur dioxide Belerang dioksida SO2 SO2
Aluminun oxide Aluminun oksida Al2O3 Al2O3
Barium Sulfate Barium Sulfat BaSO4 BaSO4
Calcium hydroxide Kalsium hidroksida Ca(OH)2 Ca (OH) 2
Copper (II) sulfate Tembaga (II) sulfat CuSO4 CuSO4
Ethane Etana C2H6 C2H6
Ethene (ethylene) Etena (etilena) C2H4 C2H4
Ethyne (acetylene) Etuna (asetilena) C2H2 C2H2
Hydrogen fluoride Hidrogen fluoride HF HF
Hydrogen iodide Hidrogen iodida HI HI
Iodine chloride Yodium klorida ICl ICL
Lead (II) oxide Lead (II) oksida PbO PbO
Magnesium oxide Magnesium oksida MgO MgO
Nitrogen (II) oxide Nitrogen (II) oksida NO NO
Nitrogen (IV) oxide Nitrogen (IV) oksida NO2 NO2
Potassium chloride Kalium klorida KCl KCl
Sodium chloride Natrium klorida NaCl NaCl
Sulfur dioxide Belerang dioksida SO2 SO2
Water Air H2O H2O
Aluminum Bromide Aluminium Bromida AlBr3 AlBr3
Aluminum Carbonate Aluminium Karbonat Al2(CO3)3 Al2 (CO3) 3
Aluminum Chloride Aluminium Klorida AlCl3 AlCl3
Aluminum Chromate Aluminium Kromat Al2(CrO4)3 Al2 (CrO4) 3
Aluminum Hydroxide Aluminium Hidroksida Al(OH)3 Al (OH) 3
Aluminum Iodide Aluminium iodida AlI3 AlI3
Aluminum Nitrate Aluminium Nitrat Al(NO3)3 Al (NO3) 3
Aluminum Phosphate Aluminium Fosfat AlPO4 AlPO4
Aluminum Sulfate Aluminium Sulfat Al2(SO4)3 Al2 (SO4) 3
Aluminum Sulfide Aluminium Sulfida Al2S3 Al2S3
Ammonium Acetate Amonium Asetat NH4C2H3O2 NH4C2H3O2
Ammonium Bromide Amonium Bromida NH4Br NH4Br
Ammonium Carbonate Amonium Karbonat (NH4)2CO3 (NH4) 2CO3
Ammonium Chloride Amonium Klorida NH4Cl NH4Cl
Ammonium Chromate Amonium Kromat (NH4)2CrO4 (NH4) 2CrO4
Ammonium Hydroxide Amonium Hidroksida NH4OH NH4OH
Ammonium Iodide Amonium iodida NH4I NH4I
Ammonium Nitrate Amonium Nitrat NH4NO3 NH4NO3
Ammonium Phosphate Amonium Fosfat (NH4)3PO4 (NH4) 3PO4
Ammonium Sulfate Amonium Sulfat (NH4)2SO4 (NH4) 2SO4
Ammonium Sulfide Amonium Sulfida (NH4)2S (NH4) 2S
Barium Acetate Barium Asetat Ba(C2H3O2)2 Ba (C2H3O2) 2
Barium Bromide Barium Bromida BaBr2 BaBr2
Barium Carbonate Barium Karbonat BaCO3 BaCO3
Barium Chloride Barium Klorida BaCl2 BaCl2
Barium Chromate Barium Kromat BaCrO4 BaCrO4
Barium Hydroxide Barium Hidroksida Ba(OH)2 Ba (OH) 2
Barium Iodide Barium iodida BaI2 BaI2
Barium Nitrate Barium Nitrat Ba(NO3)2 Ba (NO3) 2
Barium Phosphate Barium Fosfat Ba3(PO4)2 Ba3 (PO4) 2
Barium Sulfate Barium Sulfat BaSO4 BaSO4
Barium Sulfide Barium Sulfida BaS Bas
Calcium Acetate Kalsium Asetat Ca(C2H3O2)2 Ca (C2H3O2) 2
Calcium Bromide Kalsium Bromida CaBr2 CaBr2
Calcium Carbonate Kalsium Karbonat CaCO3 CaCO3
Calcium Chloride Kalsium Klorida CaCl2 CaCl2
Calcium Chromate Kalsium Kromat CaCrO4 CaCrO4
Calcium Hydroxide Kalsium Hidroksida Ca(OH)2 Ca (OH) 2
Calcium Iodide Kalsium iodida CaI2 CaI2
Calcium Nitrate Kalsium Nitrat Ca(NO3)2 Ca (NO3) 2
Calcium Phosphate Kalsium Fosfat Ca3(PO4)2 Ca3 (PO4) 2
Calcium Sulfate Kalsium Sulfat CaSO4 CaSO4
Calcium Sulfide Kalsium Sulfida CaS Cas
Copper (II) Acetate Tembaga (II) Asetat Cu(C2H3O2)2 Cu (C2H3O2) 2
Copper (II) Bromide Tembaga (II) Bromida CuBr2 CuBr2
Copper (II) Carbonate Tembaga (II) Karbonat CuCO3 CuCO3
Copper (II) Chloride Tembaga (II) Klorida CuCl2 CuCl2
Copper (II) Chromate Tembaga (II) Kromat CuCrO4 CuCrO4
Copper (II) Hydroxide Tembaga (II) Hidroksida Cu(OH)2 Cu (OH) 2
Copper (II) Iodide Tembaga (II) iodida CuI2 CuI2
Copper (II) Nitrate Tembaga (II) Nitrat Cu(NO3)2 Cu (NO3) 2
Copper (II) Phosphate Tembaga (II) Fosfat Cu3(PO4)2 Cu3 (PO4) 2
Copper (II) Sulfate Tembaga (II) Sulfat CuSO4 CuSO4
Copper (II) Sulfide Tembaga (II) Sulfida CuS Cus
Iron (II) Acetate Besi (II) Asetat Fe(C2H3O2)2 Fe (C2H3O2) 2
Iron (II) Bromide Besi (II) Bromida FeBr2 FeBr2
Iron (II) Carbonate Besi (II) Karbonat FeCO3 FeCO3
Iron (II) Chloride Besi (II) Klorida FeCl2 FeCl2
Iron (II) Chromate Besi (II) Kromat FeCrO4 FeCrO4
Iron (II) Hydroxide Besi (II) Hidroksida Fe(OH)2 Fe (OH) 2
Iron (II) Iodide Besi (II) iodida FeI2 FeI2
Iron (II) NItrate Besi (II) Nitrat Fe(NO3)2 Fe (NO3) 2
Iron (II) Phosphate Besi (II) Fosfat Fe3(PO4)2 Fe3 (PO4) 2
Iron (II) Sulfate Besi (II) Sulfat FeSO4 FeSO4
Iron (II) Sulfide Besi (II) Sulfida FeS FeS
Iron (III) Acetate Besi (III) Asetat Fe(C2H3O2)3 Fe (C2H3O2) 3
Iron (III) Bromide Besi (III) Bromida FeBr3 FeBr3
Iron (III) Carbonate Besi (III) Karbonat Fe2(CO3)3 Fe2 (CO3) 3
Iron (III) Chloride Besi (III) Klorida FeCl3 FeCl3
Iron (III) Chromate Besi (III) Kromat Fe2(CrO4)3 Fe2 (CrO4) 3
Iron (III) Hydroxide Besi (III) Hidroksida Fe(OH)3 Fe (OH) 3
Iron (III) Iodide Besi (III) iodida FeI3 FeI3
Iron (III) Nitate Besi (III) Nitate Fe(NO3)3 Fe (NO3) 3
Iron (III) Phosphate Besi (III) Fosfat FePO4 FePO4
Iron (III) Sulfate Besi (III) Sulfat Fe2(SO4)3 Fe2 (SO4) 3
Iron (III) Sulfide Besi (III) Sulfida Fe2S3 Fe2S3
Magnesium Acetate Magnesium Asetat Mg(C2H3O2)2 Mg (C2H3O2) 2
Magnesium Bromide Magnesium Bromida MgBr2 MgBr2
Magnesium Carbonate Magnesium Karbonat MgCO3 MgCO3
Magnesium Chloride Magnesium Klorida MgCl2 MgCl2
Magnesium Chromate Magnesium Kromat MgCrO4 MgCrO4
Magnesium Hydroxide Magnesium Hidroksida Mg(OH)2 Mg (OH) 2
Magnesium Iodide Magnesium iodida MgI2 MgI2
Magnesium Nitrate Nitrat Magnesium Mg(NO3)2 Mg (NO3) 2
Magnesium Phosphate Magnesium Fosfat Mg3(PO4)2 Mg3 (PO4) 2
Magnesium Sulfate Magnesium Sulfat MgSO4 MgSO4
Magnesium Sulfide Magnesium Sulfida MgS MGS
Mercury (I) Acetate Mercury (I) Asetat HgC2H3O2 HgC2H3O2
Mercury (I) Bromide Mercury (I) Bromida HgBr HgBr
Mercury (I) Carbonate Mercury (I) Karbonat Hg2CO3 Hg2CO3
Merucry (I) Chloride Merucry (I) Klorida HgCl HgCl
Mercury (I) Chromate Mercury (I) Kromat Hg2CrO4 Hg2CrO4
Merucry (I) Hydroxide Merucry (I) Hidroksida HgOH HgOH
Mercury (I) Iodide Mercury (I) iodida HgI HGI
Mercury (I) Nitrate Mercury (I) Nitrat HgNO3 HgNO3
Mercury (I) Phosphate Mercury (I) Fosfat Hg3PO4 Hg3PO4
Mercury (I) Sulfate Mercury (I) Sulfat Hg2SO4 Hg2SO4
Mercury (I) Sulfide Mercury (I) Sulfida Hg2S Hg2S
Merucry (II) Acetate Merucry (II) Asetat Hg(C2H3O2)2 Hg (C2H3O2) 2
Mercury (II) Bromide Mercury (II) Bromida HgBr2 HgBr2
Mercury (II) Carbonate Mercury (II) Karbonat HgCO3 HgCO3
Merucry (II) Chloride Merucry (II) Klorida HgCl2 HgCl2
Mercury (II) Chromate Mercury (II) Kromat HgCrO4 HgCrO4
Mercury (II) Hydroxide Mercury (II) Hidroksida Hg(OH)2 Hg (OH) 2
Mercury (II) Iodide Mercury (II) iodida HgI2 HgI2
Mercury (II) Nitrate Mercury (II) Nitrat Hg(NO3)2 Hg (NO3) 2
Mercury (II) Phosphate Mercury (II) Fosfat Hg3(PO4)2 Hg3 (PO4) 2
Merucry (II) Sulfate Merucry (II) Sulfat HgSO4 HgSO4
Mercury (II) Sulfide Mercury (II) Sulfida HgS HgS
Potassium Acetate Kalium Asetat KC2H3O2 KC2H3O2
Potassium Bromide Kalium Bromida KBr KBr
Potassium Carbonate Kalium Karbonat K2CO3 K2CO3
Potassium Chloride Kalium Klorida KCl KCl
Potassium Chromate Kalium Kromat K2CrO4 K2CrO4
Potassium Hydroxide Kalium Hidroksida KOH KOH
Potassium Iodide Kalium iodida KI KI
Potassium Nitrate Kalium Nitrat KNO3 KNO3
Potassium Phosphate Kalium Fosfat K3PO4 K3PO4
Potassium Sulfate Kalium sulfat K2SO4 K2SO4
Potassium Sulfide Kalium Sulfida K2S K2S
Silver Acetate Silver Asetat AgC2H3O2 AgC2H3O2
Silver Bromide Perak Bromida AgBr AgBr
Silver Carbonate Silver Karbonat Ag2CO3 Ag2CO3
Silver Chloride Perak Klorida AgCl AgCl
Silver Chromate Perak Kromat Ag2CrO4 Ag2CrO4
Silver Hydroxide Silver Hidroksida AgOH AgOH
Silver Iodide Perak iodida AgI AgI
Silver Nitrate Silver Nitrat AgNO3 AgNO3
Silver Phosphate Silver Fosfat Ag3PO4 Ag3PO4
Silver Sulfate Silver Sulfat Ag2SO4 Ag2SO4
Silver Sulfide Silver Sulfida Ag2S Ag2S
Sodium Acetate Natrium Asetat NaC2H3O2 NaC2H3O2
Sodium Bromide Natrium Bromida NaBr NaBr
Sodium Carbonate Sodium Carbonate Na2CO3 Na2CO3
Sodium Chloride Natrium Klorida NaCl NaCl
Sodium Chromate Natrium Kromat Na2CrO4 Na2CrO4
Sodium Hydroxide Sodium Hidroksida NaOH NaOH
Sodium Iodide Natrium iodida NaI NaI
Sodium Nitrate Sodium Nitrat NaNO3 NaNO3
Sodium Phosphate Natrium Fosfat Na3PO4 Na3PO4
Sodium Sulfate Sodium Sulfat Na2SO4 Na2SO4
Sodium Sulfide Natrium Sulfida Na2S Na2S
Zinc Acetate Seng Asetat Zn(C2H3O2)2 Zn (C2H3O2) 2
Zinc Bromide Seng Bromida ZnBr2 ZnBr2
Zinc Carbonate Zinc Karbonat ZnCO3 ZnCO3
Zinc Chloride Seng Klorida ZnCl2 ZnCl2
Zinc Chromate Seng Kromat ZnCrO4 ZnCrO4
Zinc Hydroxide Seng Hidroksida Zn(OH)2 Zn (OH) 2
Zinc Iodide Seng iodida ZnI2 ZnI2
Zinc Nitrate Nitrat Seng Zn(NO3)2 Zn (NO3) 2
Zinc Phosphate Seng Fosfat Zn2(PO4)2 Zn2 (PO4) 2
Zinc Sulfate Seng Sulfat ZnSO4 ZnSO4
Zince Sulfide Zince Sulfida ZnS ZnS
Lead (II) Acetate Lead (II) Asetat Pb(C2H3O2)2 Pb (C2H3O2) 2
Lead (II) Bromide Lead (II) Bromida PbBr2 PbBr2
Lead (II) Carbonate Lead (II) Karbonat PbCO3 PbCO3
Lead (II) Chloride Lead (II) Klorida PbCl2 PbCl2
Lead (II) Chromate Lead (II) Kromat PbCrO4 PbCrO4
Lead (II) Hydroxide Lead (II) Hidroksida Pb(OH)2 Pb (OH) 2
Lead (II) Iodide Lead (II) iodida PbI2 PbI2
Lead (II) Nitrate Lead (II) Nitrat Pb(NO3)2 Pb (NO3) 2
Lead (II) Phosphate Lead (II) Fosfat Pb3(PO4)2 Pb3 (PO4) 2
Lead (II) Sulfate Lead (II) Sulfat PbSO4 PbSO4
Lead (II) Sulfide Lead (II) Sulfida PbS PbS
Lead (IV) Acetate Timbal (IV) Asetat Pb(C2H3O2)4 Pb (C2H3O2) 4
Lead (IV) Bromide Timbal (IV) Bromida PbBr4 PbBr4
Lead (IV) Chromate Timbal (IV) Kromat Pb(CO3)2 Pb (CO3) 2
Lead (IV) Hydroxide Timbal (IV) Hidroksida Pb(OH)4 Pb (OH) 4
Lead (IV) Iodide Timbal (IV) iodida PbI4 PbI4
Lead (IV) Nitrate Timbal (IV) Nitrat Pb(NO3)4 Pb (NO3) 4
Lead (IV) Phosphate Timbal (IV) Fosfat Pb3(PO4)4 Pb3 (PO4) 4
Lead (IV) Sulfate Timbal (IV) sulfat Pb(SO4)2 Pb (SO4) 2
Lead (IV) Sulfide Timbal (IV) Sulfida PbS2 PbS2
Aluminum Acetate Aluminium Asetat Al(C2H3O2)3 Al (C2H3O2) 3

KIMIA

Portal Kimia
sunting

Selamat datang di Portal Kimia

Kimia

Kimia (dari bahasa Arab كيمياء "seni transformasi" dan bahasa Yunani χημεία khemeia "alkimia")atau Alchemi dalam bahasa inggris adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi dan sifat zat atau materi dari skala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Kimia juga mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu dengan tujuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik. Menurut kimia modern, sifat fisik materi umumnya ditentukan oleh struktur pada tingkat atom yang pada gilirannya ditentukan oleh gaya antaratom.

Kimia sering disebut sebagai "ilmu pusat" karena menghubungkan berbagai ilmu lain, seperti fisika, ilmu bahan, nanoteknologi, biologi, farmasi, kedokteran, bioinformatika, dan geologi. Koneksi ini timbul melalui berbagai subdisiplin yang memanfaatkan konsep-konsep dari berbagai disiplin ilmu. Sebagai contoh, kimia fisik melibatkan penerapan prinsip-prinsip fisika terhadap materi pada tingkat atom dan molekul.

sunting

Artikel pilihan

Segelas Air Dingin.png

Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia. Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air. Selain di bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutub utara dan selatan planet Mars, serta pada bulan-bulan Europa dan Enceladus. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut. Pengelolaan sumber daya air yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik.

Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur sumber daya air sejak tahun 2004, yakni Undang Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Artikel pilihan sebelumnya: lainnya...

sunting

Gambar pilihan

sunting

Tokoh pilihan

Alfred Nobel

Alfred Bernhard Nobel (Stockholm, 21 Oktober 1833San Remo, 10 Desember 1896) ialah seorang kimiawan, insinyur, dan pebisnis asal Swedia. Ia adalah penemu dinamit, dan ia memiliki sebuah perusahaan senjata. Dalam surat wasiatnya, dia mewakafkan hartanya untuk membuat Penghargaan Nobel. Unsur kimia buatan bernomor atom 102 diberi nama Nobelium untuk menghormatinya. (selengkapnya...)

sunting

Tahukah anda?

sunting

Pranala luar

sunting

Belajar kimia di wikipedia

sunting

Tabel periodik unsur-unsur

H He
Li Be B C N O F Ne
Na Mg Al Si P S Cl Ar
K Ca Sc Ti V Cr Mn Fe Co Ni Cu Zn Ga Ge As Se Br Kr
Rb Sr Y Zr Nb Mo Tc Ru Rh Pd Ag Cd In Sn Sb Te I Xe
Cs Ba La Ce Pr Nd Pm Sm Eu Gd Tb Dy Ho Er Tm Yb Lu Hf Ta W Re Os Ir Pt Au Hg Tl Pb Bi Po At Rn
Fr Ra Ac Th Pa U Np Pu Am Cm Bk Cf Es Fm Md No Lr Rf Db Sg Bh Hs Mt Ds Rg Cn Uut Uuq Uup Uuh Uus Uuo
Alkali Alkali tanah Lantanida Aktinida Logam transisi Logam lainnya Metaloid Nonlogam lainnya Halogen Gas mulia